Mengenal Diskektomi, Prosedur Pengangkatan Cakram Tulang Belakang

Hidup Sehat

Diskektomi adalah sebuah tindakan medis bedah untuk mengangkat cakram tulang belakang yang terherniasi dan menekan akar saraf atau sumsum tulang belakang. Tindakan medis ini biasanya dilakukan dalam bentuk mikrodiskektomi, yang mana menggunakan mikroskop khusus untuk melihat cakram dan saraf. Tampilan yang lebih besar tersebut akan mengijinkan dokter ahli bedah untuk membuat sayatan yang lebih kecil tanpa merusak jaringan yang ada di sekitarnya. Sebelum cakram tulang belakang diangkat, sebagian kecil tulang (lamina) di tulang belakang akan diangkat. Tindakan medis ini disebut dengan nama laminectomy dan bertujuan agar dokter ahli bedah dapat melihat cakram yang rusak dengan lebih jelas. Diskektomi biasanya dilakukan di rumah sakit. Anda akan tertidur atau mati rasa pada saat operasi berlangsung. Anda juga umumnya akan menjalani rawat inap satu malam di rumah sakit untuk pemantauan.

Mengapa diskektomi perlu dilakukan?

Diskektomi dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi rasa sakit dan membuat Anda dapat bergerak dan berfungsi seperti semula. Dokter akan merekomendasikan operasi diskektomi apabila Anda:

  • Memiliki rasa sakit, mati rasa, dan kelemahan pada bagian kaki yang membuat Anda tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan bebas
  • Gejala yang dirasakan pada kaki tidak kunjung membaik setelah menjalani perawatan non-operasi selama 4 minggu
  • Hasil dari pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa Anda memiliki kelemahan, hilangnya pergerakan, atau rasa tidak normal yang akan semakin membaik apabila operasi dilakukan

Sementara itu, operasi diskektomi dianggap sebagai perawatan kegawatdaruratan apabila Anda memiliki sindrom cauda equina, dengan tanda-tanda seperti kehilangan kontrol usus dan kandung kemih, rasa lemah pada kedua kaki, dan mati rasa atau kesemutan pada pantat, daerah kelamin, dan kedua kaki.

Diskektomi apakah berisiko?

Meskipun operasi cakram tulang belakang rusak atau terherniasi tidak untuk semua orang, banyak orang mengalami kemajuan setelah mendapatkan tindakan bedah medis ini. Sebuah studi yang bernama SPORT secara acak menugaskan 500 orang ke dalam dua kelompok, grup satu mendapatkan operasi diskektomi sedangkan grup dua tidak. Penelitian tersebut menemukan bahwa setelah 2 tahun kebanyakan orang dari grup penelitian tersebut merasa lebih baik dan dapat kembali melakukan hal-hal yang aktif. Mereka yang mendapatkan operasi merasa sedikit lebih baik dibandingkan dengan yang tidak. Namun, perbedaan tersebut tidak terlalu besar sehingga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa perawatan ini lebih baik.

Studi lain mengikuti 500 orang dalam kurun waktu 100 tahun dengan kondisi serupa, beberapa mendapatkan diskektomi dan sisanya tidak. Studi tersebut menemukan bahwa orang-orang yang memiliki rasa sakit sedang hingga parah merasa lebih baik setelah mendapatkan operasi. Namun, setelah 5 hingga 10 tahun, orang-orang dari kedua grup dapat melakukan aktivitas sehari-hari dalam kadar yang sama baik mereka mendapatkan operasi atau tidak. Selain itu, sama halnya dengan tindakan bedah medis lain, ada risiko yang menghantui diskektomi, seperti operasi tidak selamanya dapat memberikan hasil yang memuaskan, dalam artian tidak ada garansi perawatan ini lebih baik daripada perawatan lain. Diskektomi juga berisiko merusak tulang belakang atau saraf dan berisiko menyebabkan infeksi. Risiko juga dapat dari obat bius yang digunakan.

Diskektomi cakram tulang belakang terherniasi atau rusak dapat menyediakan rasa lega dari rasa sakit dengan lebih cepat dibandingkan dengan perawatan non-bedah. Namun masih jelas apakah operasi tersebut benar-benar membuat perubahan dibandingkan dengan perawatan lain di kemudian hari.

Read More