makanan untuk anak autisme

Menu Makanan yang Tepat bagi Anak dengan Autisme

Parenting

Autism Spectrum Disorders (ASD), yang lebih dikenal dengan autism, kini menjadi kondisi yang semakin banyak ditemui. Prevalensinya adalah satu banding 88 anak. Merea mengalami kelainan genetik sehingga menjalani gangguan tumbuh kembang, berupa kesulitan berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal. Karena kondisi yang berbeda ini, anak dengan autisme membutuhkan perhatian lebih dari orang tua dan lingkungannya.

Perhatian lebih itu mencakup soal makanan. Anak dengan autisme perlu pola makan khusus dengan pemberian makanan yang tidak mengandung kasein dan gluten, dua jenis protein yang sulit dicerna tubuh. Keduanya biasa ditemukan di gandum, biji-bijian barley, gandum hitam, dan sejumlah merek oat. Susu, keju, yogurt, es krim, kebanyakan roti, sereal, pasta, dan mie, juga harus dihindari. Begitu juga hampir semua jenis makanan olahan seperti sosis, mentega, dan saus. Produk yang tanpa kandungan protein itu biasa mencantumkan “gluten free” dan “casein free” di label mereka.

Berbagai jenis makanan yang disebutkan di atas tidak termasuk jenis makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia, kecuali mie. Maka, sebaiknya, para orang tua menghindari pemberian mie kepada anak dengan autisme.

Sebuah studi tentang gluten free pada anak dengan autisme menunjukkan hasil yang menggembirakan. Anak yang kerap melanggar pantangan gluten dan kasein sekali sebulan menunjukkan perbaikan yang lebih minim ketimbang mereka yang melanggar dua kali atau kurang dalam setahun.

Penelitian lanjutan di Denmark pada 2010 membuktikan anak dengan autisme berusia 4 sampai 11 tahun mengalami perbaikan setelah menjalani diet bebas gluten dan kasein (GFCF diet) selama 8, 12, dan 24 bulan.  Peneliti dari The Pennsylvania State University, Pennsylvania, Amerika Serikat mendapati para orang tua dari hampir 400 anak dengan autism mendapati anak-anak mereka mengalami perbaikan kondisi lewat GFCF diet. Perbaikan itu meliputi pengurangan hiperaktivitas dan tantrum, peningkatan kontak mata dan kemampuan bicara, dan perbaikan fisik seperti menurunnya gatal-gatal. Mereka yang mengalami perbaikan kondisi ini menjalani diet bebas gluten dan kasein secara ketat.

Belum ada penelitan yang secara tegas membuktikan korelasi gluten-kasein dan perbaikan kondisi ASD. Namun, para pakar kesehatan menunjuk pada sifat gluten dan kasein yang sulit terurai, sehingga mengendap di usus dan saluran darah. Istilahnya, usus bocor atau leaky guts. Jika kondisi itu terjadi, kedua protein itu bisa mencapai sistem otak sehingga mempengaruhi kemampuan bicara dan social seseorang.

Teori lain yang diyakini para pakar kesehatan adalah anak dengan autism—karena sebab yang belum diketahui—tidak cocok dengan gluten dan kasein, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bagi tubuhnya. Hal itu didukung fakta selama anak tidak terpapar kedua protein tersebut, anak itu cenderung lebih kalem, peka terhadap sekitar, tidur lebih nyaman, dan meraih progres lebih banyak saat terapi.

Menjalani diet bebas gluten dan kasein bisa menjadi momen yang menantang bagi para orang tua anak dengan autisme. Anak dengan ASD cenderung doyan makanan olahan, seperti sosis, keripik dalam kemasan, dan sebagainya. Sayur dan buah tidak termasuk dalam menu favorit mereka. Mereka biasanya juga makan dengan menu yang itu-itu saja dan menolak makanan baru. Kombinasi menu lama dengan GFCF bisa menjadi pilihan di masa awal menjalani diet bebas gluten dan kasein.

Perlu diketahui, diet GFCF tidak berlaku sama pada semua anak dengan autisme. Ada yang mengalami perbaikan dalam hitungan pekan, ada yang butuh berbulan-bulan. Maka, para orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter soal diet yang cocok bagi anak dengan ASD.

Read More