Sejarah Rumah Sakit PGI Cikini

Hidup Sehat

Rumah Sakit Cikini merupakan sebuah rumah sakit swasta yang berada di Jakarta Pusat. Rumah sakit ini adalah rumah sakit swasta tertua di Indonesia yang memberikan pelayanan dengan sentuhan kasih saying dan didukung oleh dokter dan tim kesehatan yang profesional serta perlengkapan yang lengkap. Berdiri sejak tahun 1898, saat ini Rumah Sakit PGI Cikini terletak di Jalan Raden Saleh No. 40. Rumah sakit berdiri di lokasi dengan bangunan bergaya Gothic-Moors, yang gedungnya pada zaman dulu adalah milik seorang pelukis Naturalis, Raden Saleh.

Rumah Sakit PGI Cikini memiliki catatan sejarah yang cukup panjang. Untuk mengetahui secara tepatnya bagaimana Rumah Sakit PGI Cikini ini dibangun. Berikut cerita sejarah yang dirangkum dari laman resmi Rumah Sakit PGI Cikini.

Rumah Sakit PGI Cikini pertama kali didirikan bukanlah berbentuk rumah sakit namun sebuah balai pengobatan. Didirikan oleh Dominee Cornelis de Graaf bersama sang isteri yang bernama Ny. Adriana J de Graff Kooman. Awalnya, pada tanggal 15 Maret 1895, pasangan suami isteri ini mendirikan perkumpulan orang-orang yang terserang penyakit di Indonesia, nama perkumpulan ini disebut Vereeniging Voor Ziekenverpleging In Indie.

Setelah itu, pada tanggal 1 September 1895, balai pengobatan dibuka yang terletak di Gang Pool, yang letaknya dekat dari Istana Negara sebagai tempat untuk pelayanan kesehatan. Pasangan ini kemudian mencari dana untuk mengawali dan mengembangkan tempat pelayanan kesehatan ini dan mereka berhasil mendapat sumbangan sebesar 100.000 gulden dari Ratu Emma yang merupakan seorang Ratu Belanda pada masa itu. Dari dana tersebutlah, keduanya membeli istana Pelukis Raden Saleh yaitu pada tahun 1897 dan semua kegiatan pelayanan kesehatan dipindahkan ke tempat ini.

Berawal dari tempat pelayanan kesehatan, pada tanggal 12 Januari 1898 akhirnya diresmikan menjadi Rumah Sakit Diakones pertama di Indonesia. Rumah sakit ini awalnya diberi nama Koningin Emma Ziekenhuis yang berarti Rumah Sakit Ratu Emma untuk menghormati dan mengingat sumbangan terbesar yang diberikan oleh Ratu Belanda tersebut.

Pada masa kependudukan Jepang sekitar tahun 1942-1945, rumah sakit ini sempat menjadi rumah sakit untuk para Angkatan Laut Jepang atau yang disebut Kaigun. Setelah Desember 1948, Rumah Sakit Cikini dikelola oleh Repatriasi Tahanan Perang dan Interniran Sekutu (RAPWI) yang kemudian beralih ke Dienst der Volksgezondheid (DVG).

Selanjutnya manajemen Rumah Sakit Cikini diserahkan kepada yayasan swasta yang dipimpin oleh RF Bozkelman pada tahun 1948. Setelah itu, pada tahun 1957, manajemen Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini diserahkan kepada Dewan Gereja Indonesia (DGI). Saat dikelola oleh DGI, rumah sakit dipegang oleh Prof. Dr. Joedono yang menjabat sebagai pimpinan sementara.

Setelah itu, dr. H. Sinaga ditunjuk menjadi direktur pribumi pertama rumah sakit ini secara resmi. Kemudian Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini berganti nama menjadi Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini.

Pada tanggal 31 Maret 1989, Yayasan RS DGI Tjikini berubah nama menjadi Yayasan Kesehatan PGI Cikini mengikuti perubahan nama DGI dan ejaan Indonesia. Rumah sakit ini memiliki gedung yang megah, dikelilingi oleh taman yang cukup besar dan pepohonan rimba. Rumah Sakit PGI Cikini juga sempat dijadikan KEbun Binatang yang luas tamannya mencapai lokasi Kampus Institut Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, dan SMP I Cikini. Rumah Sakit PGI Cikini masih tertata dengan rapih dan tertata sehingga mendapat julukan A Garden Hospital with Loving Touch.

Itulah sejarah singkat mengenai rumah sakit PGI Cikini. Semoga menambah wawasanmu.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*