Mengenal MCV, Bagian dari Pemeriksaan Darah Lengkap

Hidup Sehat

Saat melakukan pemeriksaan darah lengkap, pernahkah Anda melihat nilai MCV pada hasil pemeriksaan? MCV merupakan kependekan dari Mean Corpuscular Volume. Nilainya menunjukkan ukuran eritrosit atau sel darah merah pada sampel darah yang diambil untuk pemeriksaan.

Seperti pemeriksaan lain, terdapat nilai normal dari MCV. Bila seseorang memiliki nilai MCV rendah, disebut mikrositosis. Sebaliknya, nilai MCV yang tinggi dikatakan sebagai kondisi makrositosis.

Nilai MCV ini dapat memberikan informasi yang penting, seperti kemungkinan adanya beberapa jenis anemia. Tapi, nilai ini tidak dapat menjadi acuan mandiri dalam menegakkan diagnosis. Oleh karenanya, dokter juga akan melihat nilai dari Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) serta Red Cell Distribution Width (RDW).

Kondisi yang membutuhkan pemeriksaan MCV

MCV bukan jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan secara mandiri. Nilainya akan diketahui bila Anda melakukan pemeriksaan darah lengkap. Anda mungkin melakukan pemeriksaan darah lengkap sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan atau medical check up atau bila direkomendasikan oleh dokter dalam rangka mendiagnosis penyakit tertentu.

Umumnya, dokter akan perlu melihat nilai MCV dan menyarankan Anda melakukan pemeriksaan darah lengkap karena beberapa kondisi, diantaranya:

  • Pasien merasa lemas dan pusing, serta tampak pucat. Dibutuhkan pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui apakah pasien benar mengalami anemia.
  • Untuk membedakan jenis anemia yang diderita oleh pasien.
  • Mengetahui kelainan darah yang diderita oleh pasien.
  • Sebagai pemeriksaan pendukung pada berbagai kondisi penyakit.
  • Sebagai acuan keberhasilan suatu terapi suatu penyakit.

Nilai MCV serta maknanya

Nilai MCV ini sangat tergantung pada usia. Adapun rentang nilainya bagi lansia, orang dewasa, dan anak-anak adalah antara 80-95 fL. Sedang pada bayi baru lahir, rentang nilai MCV yang normal adalah antara 96-108 fL.

Indikasi adanya gangguan medis, seperti thalasemia dan berbagai jenis anemia: defisiensi besi, sideroblastik, serta yang disebabkan oleh penyakit kronis, dapat diketahui bila nilai MCV di bawah angka normal.

Begitu juga bila nilai MCV di atas normal. Diduga pasien mengalami anemia defisiensi folat, anemia akibat kekurangan vitamin B12, gangguan hati, anemia hemolitik, hipertiroidisme, anemia aplastik, serta sindrom mielodiplastik. Di samping itu, angka nilai MCV yang tinggi juga dapat menjadi tanda konsumsi alkohol berlebihan.

Meskipun, cukup banyak jenis anemia yang menyebabkan perubahan nilai MCV, tapi ada pula jenis anemia yang tidak mengakibatkan perubahan nilai MCV. Oleh karena itu, pemeriksaan lebih lanjut tetap dibutuhkan.

Risiko pemeriksaan MCV

Karena MCV merupakan bagian dari pemeriksaan darah lengkap, maka risiko yang timbul seperti layaknya pemeriksaan darah pada umumnya, yaitu:

– Perdarahan

Pada pemeriksaan darah lengkap, termasuk MCV, sampel darah akan diambil dari pembuluh tangan di tangan. Perdarahan mungkin terjadi, namun biasanya dapat diatasi dengan menekan area bekas suntik menggunakan kassa.

Risiko perdarahan ini memang akan meningkat bila saat dilakukan pemeriksaan darah lengkap, pasien sedang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki kelainan pembekuan darah.

– Hematoma

Dalam istilah awam, hematoma dikenal dengan lebam. Beberapa orang memang lebih rentan mengalami lebam di area bekas penyuntikan, misal mereka yang memiliki kelainan darah.

– Infeksi

Sebetulnya risiko infeksi tidak hanya muncul saat prosedur pengambilan darah dilakukan. Setiap kulit disuntik, dengan tujuan apa pun, risiko infeksi tetap dapat terjadi.

Meskipun Anda telah mengetahui makna nilai MCV, saat melakukan pemeriksaan darah lengkap, hasil pemeriksaan tetap perlu diterjemahkan oleh tenaga medis profesional.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*