Kanker serviks merupakah salah satu jenis kanker yang sering terjadi dan menyebabkan kematian

Berikut 10 Gejala Kanker Serviks, Apakah Anda Mengalaminya?

Kesehatan Wanita

Kanker serviks merupakah salah satu jenis kanker yang sering terjadi dan menyebabkan kematian. Di Indonesia, kanker serviks masuk dalam urutan kedua dari 10 kanker yang banyak terjadi. Kasus kanker serviks akan berdampak besar pada kualitas hidup penderitanya, keluarganya, dan tentunya, tidak membutuhkan biaya yang sedikit. Oleh sebab itu, penting untuk Anda memahami penyebab dan gejala awal kanker serviks agar dapat melakukan pencegahan maupun pengobatan sejak dini. 

Mengenal kanker serviks

Kanker serviks adalah kanker yang menyerang sel-sel serviks di bawah rahim yang terhubung langsung dengan vagina. Kanker serviks terjadi saat sel-sel serviks yang sehat mengalami mutasi DNA. Hal ini akan membuat sel-sel sehat yang tumbuh dan berkembang biak pada kecepatan tertentu, akhirnya mati pada waktu yang ditentukan. 

Mutasi DNA akan menyebabkan pertumbuhan sel di luar kendali atau abnormal, dan parahnya, sel-sel ini tidak mati. Awalnya, sel-sel abnormal yang terakumulasi akan membentuk massa (tumor). Kemudian, sel kanker ini akan menyerang jaringan di sekitarnya dengan cara melepaskan ‘diri’ dari massa (tumor) untuk menyebar (bermetastasis) ke jaringan lain di tubuh.

Penyebab kanker serviks

Penyebab pasti kanker serviks sebenarnya belum diketahui, tetapi para ahli meyakini bahwa ada peran HPV dalam kasus ini. Strain human papillomavirus (HPV) menular secara seksual, seperti dari anal, oral, atau vaginal sex. National Cervical Cancer Coalition menyatakan bahwa 99 persen kanker serviks disebabkan oleh HPV.

Saat tubuh terinfeksi HPV, sistem imun tubuh akan menyerang virus tersebut. Sayangnya, pada sebagian kecil orang, virus ini dapat bertahan hingga bertahun-tahun lamanya dan menyebabkan sel serviks berubah menjadi sel kanker.

Faktor risiko kanker serviks

Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terserang kanker serviks pada perempuan, yaitu:

  • Suka berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual.
  • Melakukan aktivitas seksual pada usia dini dapat meningkatkan risiko HPV.
  • Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya, seperti gonore, HIV/AIDS, klamidia, dan sifilis dapat meningkatkan risiko HPV.
  • Lemahnya sistem kekebalan tubuh.
  • Kebiasaan merokok. 
  • Terpapar obat pencegah keguguran. Hal ini dikaitkan dengan seorang ibu yang mengonsumsi obat diethylstilbestrol (DES) saat hamil pada tahun 1950-an, maka Anda mungkin memiliki risiko jenis kanker serviks tertentu, yang disebut adenokarsinoma sel bening.

Tanda awal kanker serviks

Umumnya, gejala kanker serviks tidak akan muncul hingga berada di stadium lanjut. Tidak sedikit pula yang menganggap gejala awal kanker serviks ini berkaitan dengan kondisi lainnya, seperti siklus menstruasi atau infeksi saluran kemih. 

Berikut beberapa gejala awal yang terkait kanker serviks.

  1. Perdarahan abnormal, seperti perdarahan setelah menstruasi, melakukan hubungan seksual, melakukan pemeriksaan panggul, atau menopause.
  2. Keputihan yang tidak biasa, baik jumlah, konsistensi, warna, atau baunya.
  3. Mengalami nyeri di bagian panggul.

Beberapa gejala yang mungkin muncul saat kanker telah menyebar ke jaringan terdekat, seperti:

  1. Buang air kecil terlalu sering dan terasa sakit.
  2. Nyeri atau sakit punggung atau kaki bengkak.
  3. Diare, sembelit, atau perdarahan saat buang air besar.
  4. Tubuh lelah dan terasa sakit-sakit.
  5. Nafsu makan berkurang.
  6. Perut bengkak.
  7. Mual atau muntah.

Jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut, maka segera bicarakan dengan dokter Anda untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait dengan kanker serviks.

Catatan

Gejala kanker serviks dapat lebih parah bergantung pada jaringan dan organ tempat sel kanker menyebar. Oleh sebab itu, disarankan kepada seluruh perempuan untuk menjalani pemeriksaan panggul dan tes Pap secara teratur. Hal ini dapat mendeteksi adanya kanker serviks pada tahap awal ketika masih dapat diobati.

Read More

Perkembangan Janin di Usia Kehamilan 16 Minggu

Kesehatan Wanita
Hamil 16 minggu ditandai dengan berkurangnya gejala kehamilan dan perkembangan pesat pada janin

Saat memasuki usia kehamilan 16 minggu, biasanya tonjolan perut sudah mulai terlihat jelas. Dalam periode ini, baik ibu dan janin juga akan mengalami beberapa perubahan fisik yang perlu Anda ketahui. Gejala-gejala yang Anda rasakan pada masa awal kehamilan pun mungkin mulai berkurang. Tetapi, bukan berarti tidak ada gejala lainnya yang akan terasa. Pasalnya, hormon kehamilan masih akan membawa banyak hal baru pada tubuh Anda hingga masa akhir kehamilan. Tidak hanya itu, ada beberapa hal lainnya yang bisa terjadi dalam hamil 16 minggu.

Saat hamil 16 minggu, ukuran janin masih sangat mungil. Ia memiliki panjang sekitar 12,4 cm jika diukur dari kepala hingga bokongnya. Sementara untuk ukuran panjang dari kepala hingga tumit kaki, kurang lebih ukuran janin adalah 18 cm dengan berat sekitar 144 gram. 

Pada hamil 16 minggu ini, selain jantung yang mulai berdetak lebih kuat, indra pengecap bayi juga mulai berkembang. Dengan mulai berfungsinya indra perasa, bayi di dalam kandungan sudah bisa mengecap rasa cairan ketuban yang masuk ke dalam mulutnya. Rasa pada air ketuban akan serupa dengan jenis makanan yang Anda konsumsi. Bayi pun mulai mengenali jenis-jenis rasa seiring semakin banyaknya variasi makanan yang dikonsumsi.

Kepala dan tubuh bayi mulai mengalami perkembangan. Posisi kepalanya mulai tegak segaris dengan badan. Tengkorak, tulang rangka, dan otot-otot janin juga terus tumbuh. Pada minggu ini kemungkinan besar mata bayi di bawah kelopak mulai bergerak. Saat mulai bisa menggerakkan matanya, bayi akan mulai menyentuh kelopak matanya. Selain itu, tangan bayi juga sudah bisa mulai mengepal,dan mungkin akan mulai sering melakukan gerakan meninju. 

Kemampuan mendengarnya masih dalam tahap perkembangan. Namun, pada usia hamil 16 minggu ini, bayi dalam kandungan dapat mulai mendengar suara-suara walaupun masih sangat terbatas. Di sisi lain, rambut-rambut halus mulai tumbuh di alis, bibir atas, dan dagunya.Janin pada usia kehamilan 14-19 minggu biasanya sangat aktif karena masih terdapat banyak ruang baginya untuk bergerak. Kemungkinan besar Anda juga akan mulai merasakan gerakannya pada masa hamil 16 minggu ini. 

Hal yang harus diwaspadai saat hamil 16 minggu

Jika di usia kehamilan 16 minggu Anda belum pernah merasakan gerakan bayi, tidak perlu khawatir karena tidak jarang gerakan bayi baru terasa beberapa minggu kemudian. Anda harus waspada kondisi ini jika sampai terjadi pendarahan vagina. Segera kunjungi instalasi gawat darurat di pusat layanan kesehatan terdekat. Demikian juga jika Anda mengalami mual atau muntah yang membuat asupan nutrisi Anda terganggu atau muncul gejala dehidrasi. Selain itu, hal lain yang patut diwaspadai saat hamil 16 minggu, di antaranya keluar cairan vagina, pingsan, tekanan darah rendah, sakit bahu, tekanan pada rektum, serta nyeri atau kram panggul yang tak tertahankan. Selain gejala tersebut, sebagian ibu hamil juga mungkin masih merasakan gejala-gejala yang lebih dahulu muncul pada minggu-minggu sebelumnya. Misalnya seperti mual, penciuman yang sensitif, moodyngidam, keluar cairan berwarna putih susu atau bercak ringan.

Read More

Jauhi 5 Pantangan Pasca Operasi Angkat Rahim agar Cepat Pulih

Kesehatan Wanita

Operasi angkat rahim umumnya dilakukan pada wanita yang mengalami penyakit tertentu maupun kasus perdarahan sangat berat setelah persalinan. Dalam dunia medis, operasi angkat rahim atau histerektomi adalah tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat rahim (uterus) pada wanita. Dengan diangkatnya rahim, seorang wanita tidak akan mengalami menstruasi lagi, sehingga tidak memungkinkan untuk kembali dapat mengandung.

Seorang wanita yang baru mendapati operasi angkat rahim perlu menjauhi pantangan yang dianjurkan oleh dokter. Dengan demikian, pasien dapat pulih dengan cepat dan kembali dapat beraktivitas seperti biasa.

  • Berdiri untuk waktu yang terlampau lama

Salah satu pantangan operasi angkat rahim, yaitu tidak diperbolehkan untuk berdiri dalam waktu yang lama. Pasien yang telah menjadi operasi angkat rahim akan direkomendasikan untuk beristirahat di rumah. Selain itu, pasien juga diminta untuk menjauhi kegiatan yang memerlukan aktivitas berdiri untuk waktu yang terlampau lama. Umumnya, durasi istirahat yang direkomendasikan berlangsung sekitar dua minggu pertama pascaoperasi. Dalam proses pemulihan ini, pasien disarankan untuk lebih banyak berbaring dan duduk. Setelah itu, secara perlahan pasien dapat menambah frekuensi berdiri secara perlahan.

  • Berhubungan seksual

Penting bagi pasien pascaoperasi angkat rahim untuk tidak melakukan hubungan seksual terlebih dulu. Pasalnya, aktivitas berhubungan intim dapat meningkatkan risiko perdarahan. Pantangan untuk berhubungan seksual ini berlangsung sekitar 4-6 minggu pasca operasi angkat rahim.

Bukan tanpa alasan mengapa pasien operasi angkat rahim disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual terlebih dulu. Hal ini bertujuan agar vagina dapat lebih cepat pulih dan mencegah kemungkinan perdarahan berlebih. Selain itu juga, hormon reproduksi pasien akan terganggu pascahisterektomi. Oleh karena itu, perlu beberapa waktu agar kondisi ini kembali normal. Di samping itu, terdapat pula kemungkinan lain, yaitu kondisi vagina kering yang dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan nyeri ketika berhubungan seksual.

Setelah durasi pemulihan tersebut, pasien dapat beraktivitas seksual secara normal.

  • Melakukan kegiatan yang membutuhkan kekuatan fisik besar

Pantangan setelah operasi angkat rahim selanjutnya adalah mengangkat benda berat maupun melakukan pekerjaan yang berat secara fisik. Alasannya, setelah operasi tersebut, jaringan dan otot di sekitar bagian perut dan rahim membutuhkan waktu untuk kembali pulih. Jika pantangan ini dilanggar, khawatir pasien akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pulih.

Durasi pantangan ini berkisar dari 6-8 minggu setelah operasi angkat rahim dilakukan. Kegiatan dengan aktivitas berat termasuk menggendong anak atau memindahkan benda dengan massa yang berat. Sebagai alternatif, Anda dapat meminta tolong anggota keluarga lain untuk membantu aktivitas tersebut.

  • Kembali bekerja di kantor

Pasien operasi angkat rahim tidak dianjurkan untuk langsung kembali bekerja, terutama jika pekerjaan tersebut tergolong berat. Anjuran dokter untuk pantangan ini berjangka sekitar 2-3 minggu, bahkan 6 minggu bagi pasien dengan kasus tertentu. Meskipun begitu, durasi pantangan ini bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan dipengaruhi oleh kemampuan pasien itu sendiri, seberapa cepat tubuhnya dapat pulih.

  • Mengenakan tampon

Pantangan pascahisterektomi selanjutnya yang perlu Anda jauhi terlebih dulu adalah mengenakan tampon. Hal ini bertujuan untuk menghindari risiko infeksi.

Pasca operasi angkat rahim, pasien akan mengeluarkan cairan atau darah dari vagina. Sebagai alternatif, Anda dapat mengenakan pembalut biasa jika dibandingkan dengan tampon.

Read More