Kebiasaan Merokok Sebabkan Batuk Kronis, Berikut Cara Meredakannya

Hidup Sehat

Kebiasaan merokok memang memberikan dampak buruk sekali bagi kesehatan tubuh. Salah satunya adalah mengalami batuk yang susah sekali sembuh. Bahkan ada istilah batuk perokok (smoker’s cough), yaitu saat batuk yang Anda alami tidak kunjung reda dalam waktu 3 minggu.

Selain batuk perokok, ada juga batuk kronis yang juga disebabkan oleh keboasaan merokok. Beda batuk perokok dengan batuk kronis adalah jika kondisi batuk tidak kunjung mereda setelah 8 minggu.

Bahaya Rokok yang Menyebabkan Batuk

Batuk memang menjadi salah satu bahaya yang paling sering mengintai para perokok. Hal ini karena banyaknya zat kimia yang berbahaya bagi tubuh.

Menurut faktanya, di dalam rokok, terdapat lebih dari 7000 senyawa kimia, 250 senyawa kimia di antaranya diketahui mengandung racun, serta lebih dari 70 bahan kimia diidentifikasi dapat menyebabkan kanker.

  • Zat Kimia yang Mengganggu Saluran Pernapasan

Zat kimia berbahaya yang terkandung di dalam rokok akan mengganggu fungsi kerja silia saat masuk ke tubuh. Silia adalah rambut-rambut halus yang ada di saluran pernapasan. Fungsinya adalah untuk menyaring racun agar tidak masuk ke saluran pernapasan.

Adapun zat kimia yang mengganggu fungsi silia ini salah satunya adalah formladehid yang ada di dalam rokok. Zat ini mengurangi panjang silia dan memperlambat pergerakannya. Sehingga racun akan semakin mudah masuk ke dalam paru-paru.

  • Zat Kimia yang Menyebabkan Peradangan

Lalu, selanjutnya akan terjadi peradangan yang membuat tubuh bereaksi untuk menyingkirkan racun tersebut. Caranya adalah dengan batuk. Itulah kenapa pada perokok, sering mengalami batuk bahkan sangat parah.

Batu kronis dipicu oleh kebiasaan merokok yang akan menjadi tambah parah saat bangun tidur. Sebab, silia tidak terpengaruh saat tidur karena tidak ada aktivitas merokok. Sehingga silia dapat bekerja dengan baik dan menyaring serta mengeluarkan banyak zat kimia saat Anda bangun tidur.

Penanganan Medis bagi Penderita Batuk Kronis

Agar penyakit batuk kronis yang diderita bisa segera ditangani, sebaiknya Anda menemui dokter dan berkonsultasi untuk mendapatkan pengobatan.

Seperti biasa, dokter akan bertanya mengenai riwayat kesehatan serta keluhan-keluhan yang dirasakan. Dokter juga akan memeriksa kondisi fisik, dan pemeriksaan lainnya yang membantu menegakkan diagnosis.

Jangan khawatir, sebab peserta BPJS Kesehatan bisa memperoleh pelayanan medis yang lengkap. BPJS Kesehatan menanggung pelayanan kesehatan untuk penyakit asma bronkhial, yang salah satu penyebabnya oleh paparan asap rokok.

Salah satu diagnosis bandingan untuk asma bronkhial ini adalah batuk kronis.

Nanti dokter akan memberikan obat jenis bronkodilator dan kortikosteroid. Kedua obat ini biasanya dikonsumsi secara bersamaan. Bronkodilator membantu meregangkan otot sekitar saluran pernapasan, sedangkan kortikosteroid membantu meredakan peradangan yang terjadi di sekitar saluran pernapasan.

Cara Meringankan Batuk Kronis Karena Rokok

Menghentikan kebiasaan merokok adalah satu-satunya cara terbaik meredakan dan menghentikan batuk yang dialami. Selain berhenti merokok, Anda juga dapat melakukan beberapa anjuran berikut ini:

  • Legakan tenggokokn dengan obat batuk atau permen pelega tenggorokan
  • Agar dahak tidak menumpuk pada tenggorokan, posisikan kepala lebih tinggi dari badan ketika tidur
  • Berkumurlah dengan air garam
  • Perbanyak minum air putih, setidaknya 6-8 gelas air per hari. Ini bertujuan agar lendir di paru-paru atau di tenggorokan tidak bertambah
  • Hindari minum kopi dan alkohol agar batuk tidak menjadi parah
  • Hirup uap air rebusan daun mint atau daun kayu putih
  • Konsumsi madu untuk meredakan gejala batuk
  • Rutin berolahraga secara teratur setidaknya 30 menit dalam sehari.

Cara-cara di atas tentu saja dapat mengurangi gejala bahkan menghentikan batuk yang diderita, jika kebiasaan merokok sudah dihentikan. Menghentikan kebiasaan merokok memanglah tidak mudah. Namun, melihat bahaya yang ditimbulkan bagi kesehatan sangat banyak, sebaiknya Anda segera berhenti merokok. Lakukan dengan perlahan dan niat yang bulat.

Read More

Mengenal Pankreatitis Kronis

Penyakit
Pankreatitis kronis umumnya didefinisikan sebagai proses inflamasi pankreas yang terus-menerus dan kronis

Pankreatitis kronis umumnya didefinisikan sebagai proses inflamasi pankreas yang terus-menerus dan kronis, ditandai oleh perubahan morfologis yang tidak dapat diubah.

Pankreas adalah organ yang terletak di belakang perut Anda. Pankreas membuat enzim, yang merupakan protein khusus yang membantu mencerna makanan Anda. Hal ini juga membuat hormon yang mengontrol kadar gula dalam aliran darah Anda.

Pankreatitis terjadi ketika pankreas Anda meradang. Pankreatitis dianggap akut ketika peradangan datang tiba-tiba dan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Namun dianggap kronis ketika terus datang kembali atau ketika peradangan tidak sembuh selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Pankreatitis kronis dapat menyebabkan jaringan parut dan kerusakan permanen.  Batu dan kista kalsium dapat berkembang di pankreas Anda, yang dapat menyumbat saluran, atau tabung, yang membawa enzim pencernaan dan jus ke perut Anda.  

Penyumbatan dapat menurunkan kadar enzim dan hormon pankreas, yang akan membuat tubuh Anda lebih sulit untuk mencerna makanan dan mengatur gula darah Anda. Hal ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, termasuk kekurangan gizi dan diabetes.

Pada pankreatitis kronis awal, Anda mungkin tidak merasakan gejala apa pun. Perubahan pankreas Anda bisa menjadi sangat lanjut sebelum Anda mulai merasa tidak sehat. Ketika gejala muncul, mereka mungkin termasuk:

  • Nyeri di perut bagian atas
  • Diare
  • Tinja berlemak, yang longgar, pucat, dan tidak mudah luntur
  • Mual dan muntah
  • Sesak nafas
  • Penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan
  • Haus dan kelelahan yang berlebihan

Anda mungkin mengalami gejala yang lebih parah ketika penyakit ini berkembang, seperti:

  • Cairan pankreas di perut Anda
  • Penyakit kuning, yang ditandai dengan perubahan warna kekuningan di mata dan kulit Anda
  • Pendarahan di dalam
  • Penyumbatan usus

Gejala menyakitkan dapat bertahan selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari.  Beberapa orang menemukan bahwa makan atau minum dapat memperburuk rasa sakit mereka. Saat penyakit berkembang, rasa sakitnya bisa menjadi konstan.

Tes pencitraan adalah cara yang paling dapat diandalkan untuk membuat diagnosis mengenai pankreatitis kronis. Dokter Anda mungkin meminta agar penelitian berikut dilakukan pada perut Anda untuk mencari tanda-tanda peradangan, seperti:

  • Sinar X
  • USG
  • CT scan
  • Scan MRI

Perawatan untuk pankreatitis kronis berfokus pada mengurangi rasa sakit Anda dan meningkatkan fungsi pencernaan Anda.  Kerusakan pankreas Anda tidak dapat diurungkan, tetapi dengan perawatan yang tepat, Anda dapat mengelola banyak gejala Anda. Perawatan untuk pankreatitis dapat mencakup pengobatan, terapi endoskopi, atau operasi.

Read More

Bahaya Varises Esofagus dan Cara Pencegahannya

Uncategorized

Sesuai dengan namanya, varises Esofagus adalah penyakit yang diakibatkan oleh pembesaran yang tidak normal pada pembuluh darah di dalam esofagus. Esofagus sendiri merupakan kerongkongan yang menghubungkan tenggorokan dan perut . Penyakit ini seringnya dialami oleh pasien yang menderita penyakit liver (hati) yang serius.

Pembesaran yang abnormal ini terjadi karena hipertensi portal atau tekanan di dalam vena portal meningkat. Vena porta ini memiliki fungsi mengalirkan darah dari organ sistem pencernaan ke hati. Tekanan darah vena portal akan meningkat bila aliran darah ke hati terhambat. Sehingga bila terjadi penyumbatan, aliran darah akan terbendung sebelum masuk ke vena porta, salah satunya di esofagus. Inilah yang menyebabkan munculnya varises esofagus yang apabila pecah akan sangat berbahaya.

Penyebab Varises Esofagus

Varises esofagus terjadi disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

  • Penyumbatan Darah

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa kondisi ini terjadi karena adanya penyumbatan darah normal ke hati. Tekanan pembuluh darah besar akan meningkat bila aliran darah kembali naik. Karena adanya tekanan, darah terpaksa mencari jalur lain melalui pembuluh darah yang lebih kecil di bagian bawah esofagus. Pembuluh darah kecil ini sebenarnya rentan pecah dan akan mengalami pendarahan.

  • Sirosis

Penyakit sirosis merupakan salah satu jenis penyakit pada liver. Disebabkan oleh beberapa penyakit seperti hati berlemak, hepatitis, serta permasalahan pada saluran empedu.

Organ hati akan mengalami kerusakan dan mengganggu fungsinya akibat adanya jaringan parut yang terbentuk. Ini adalah komplikasi dari berbagai penyakit pada organ hati.

  • Infeksi parasit

Varises esofagus juga terjadi akibat adanya infeksi parasit. Parasit akan merusak liver, dan organ tubuh lainnya, sepertu usus, kandung kemih, paru-paru, dan sebagainya.

Varises esofagus akan lebih mudah mengalami pendarahan pada kondisi seperti:

  • Ukuran varises esofagus besar
  • Konstipasi
  • Menderita gagal hati atau sirosis yang sudah serius
  • Tekanan darah tinggi di vena porta
  • Pernah mengalami pendarahan varises esofagus sebelumnya
  • Mengonsumsi alkohol berlebihan
  • Varises esofagus menunjukkan adanya bercak merah dan panjang

Gejala Jika Mengalami Varises Esofagus

Gejala dari penyakit ini hampir tidak terlihat kecuali jika sudah mengalami pendarahan. Pendarahan terjadi akibat pecahnya pembuluh darah kecil yang fungsinya bukan untuk menyalurkan darah bervolume besar. Kondisi ini dapat membahayakan penderita.

Berikut gejala-gejala saat terjadi pendarahan:

  • BAB berdarah
  • Muntah darah dalam jumlah besar
  • Sakit kepala
  • Perut terasa sakit
  • Kulit dan mata berwarna kekuningan
  • Hilangnya kesadaran
  • Tekanan darah sangat rendah
  • Adanya penumpukan cairan di abdomen
  • Mudah luka

Jika gejala-gejala yang disebutkan di atas mulai terasa mengkhawatirkan, segera cari bantuan medis.

Namun, bagi penderita penyakit liver, sebaiknya konsultasi dengan dokter mengenai risiko mengalami varises esofagus.

Diagnosis Pemeriksaan Varises Esofagus

Ada beberapa metode pemeriksaan oleh dokter untuk dapat mendiagnosis penyakit ini, yaitu:

  • Endoskopi, yaitu prosedur memasukkan selang kecil dalam mulut melalui esofagus hingga usus halus. Dari prosedur ini, dokter dapat melihat apakah ada tanda-tanda pendarahan
  • Endoskopi kapsul, pemeriksaan dengan menggunakan kapsul yang memiliki kamera nirkabel untuk melihat gambar esofagus.
  • Tes pencitraan seperti CT scan, USG Doppler, atau MRI
  • Tes darah, fungsinya untuk mengukur sel darah dan memeriksa fungsi hati serta ginjal

Bagaimana Cara Mencegah Varises Esofagus?

Beberapa cara ini dapat dilakukan untuk menghindari komplikasi dan pendarahan varises esofagus, diantaranya:

  • Mengonsumsi makanan yang bergizi
  • Membatasi dalam penggunaan substansi kimia
  • Tidak mengonsumsi alkohol
  • Menjaga berat badan ideal
  • Melakukan aktivitas seksual dengan pengaman agar tidak terkena risiko hepatitis B dan C

Bagi penderita varises esofagus sebaiknya disiplin mengikuti program penanganan serta rutin konsultasi berkala dengan dokter. Salah penanganan, kondisi ini dapat mengancam jiwa.

Read More

Mengenal Diskektomi, Prosedur Pengangkatan Cakram Tulang Belakang

Hidup Sehat

Diskektomi adalah sebuah tindakan medis bedah untuk mengangkat cakram tulang belakang yang terherniasi dan menekan akar saraf atau sumsum tulang belakang. Tindakan medis ini biasanya dilakukan dalam bentuk mikrodiskektomi, yang mana menggunakan mikroskop khusus untuk melihat cakram dan saraf. Tampilan yang lebih besar tersebut akan mengijinkan dokter ahli bedah untuk membuat sayatan yang lebih kecil tanpa merusak jaringan yang ada di sekitarnya. Sebelum cakram tulang belakang diangkat, sebagian kecil tulang (lamina) di tulang belakang akan diangkat. Tindakan medis ini disebut dengan nama laminectomy dan bertujuan agar dokter ahli bedah dapat melihat cakram yang rusak dengan lebih jelas. Diskektomi biasanya dilakukan di rumah sakit. Anda akan tertidur atau mati rasa pada saat operasi berlangsung. Anda juga umumnya akan menjalani rawat inap satu malam di rumah sakit untuk pemantauan.

Mengapa diskektomi perlu dilakukan?

Diskektomi dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi rasa sakit dan membuat Anda dapat bergerak dan berfungsi seperti semula. Dokter akan merekomendasikan operasi diskektomi apabila Anda:

  • Memiliki rasa sakit, mati rasa, dan kelemahan pada bagian kaki yang membuat Anda tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan bebas
  • Gejala yang dirasakan pada kaki tidak kunjung membaik setelah menjalani perawatan non-operasi selama 4 minggu
  • Hasil dari pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa Anda memiliki kelemahan, hilangnya pergerakan, atau rasa tidak normal yang akan semakin membaik apabila operasi dilakukan

Sementara itu, operasi diskektomi dianggap sebagai perawatan kegawatdaruratan apabila Anda memiliki sindrom cauda equina, dengan tanda-tanda seperti kehilangan kontrol usus dan kandung kemih, rasa lemah pada kedua kaki, dan mati rasa atau kesemutan pada pantat, daerah kelamin, dan kedua kaki.

Diskektomi apakah berisiko?

Meskipun operasi cakram tulang belakang rusak atau terherniasi tidak untuk semua orang, banyak orang mengalami kemajuan setelah mendapatkan tindakan bedah medis ini. Sebuah studi yang bernama SPORT secara acak menugaskan 500 orang ke dalam dua kelompok, grup satu mendapatkan operasi diskektomi sedangkan grup dua tidak. Penelitian tersebut menemukan bahwa setelah 2 tahun kebanyakan orang dari grup penelitian tersebut merasa lebih baik dan dapat kembali melakukan hal-hal yang aktif. Mereka yang mendapatkan operasi merasa sedikit lebih baik dibandingkan dengan yang tidak. Namun, perbedaan tersebut tidak terlalu besar sehingga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa perawatan ini lebih baik.

Studi lain mengikuti 500 orang dalam kurun waktu 100 tahun dengan kondisi serupa, beberapa mendapatkan diskektomi dan sisanya tidak. Studi tersebut menemukan bahwa orang-orang yang memiliki rasa sakit sedang hingga parah merasa lebih baik setelah mendapatkan operasi. Namun, setelah 5 hingga 10 tahun, orang-orang dari kedua grup dapat melakukan aktivitas sehari-hari dalam kadar yang sama baik mereka mendapatkan operasi atau tidak. Selain itu, sama halnya dengan tindakan bedah medis lain, ada risiko yang menghantui diskektomi, seperti operasi tidak selamanya dapat memberikan hasil yang memuaskan, dalam artian tidak ada garansi perawatan ini lebih baik daripada perawatan lain. Diskektomi juga berisiko merusak tulang belakang atau saraf dan berisiko menyebabkan infeksi. Risiko juga dapat dari obat bius yang digunakan.

Diskektomi cakram tulang belakang terherniasi atau rusak dapat menyediakan rasa lega dari rasa sakit dengan lebih cepat dibandingkan dengan perawatan non-bedah. Namun masih jelas apakah operasi tersebut benar-benar membuat perubahan dibandingkan dengan perawatan lain di kemudian hari.

Read More

Selain Eritema Multiformis, Kondisi Serupa Banyak Jenisnya

Penyakit

Eritema multiformis merupakan kondisi timbulnya ruam yang sering kali disebabkan oleh infeksi atau pengobatan. Eritema multiformis ditandai dengan munculnya lesi kulit kemerahan. Kondisi ini bersifat akut, tidak menular, dan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa menimbulkan komplikasi. Munculnya eritema bisa diakibatkan oleh reaksi peradangan akibat paparan sinar matahari, alergi terhadap beberapa jenis zat atau obat-obatan, hingga terinfeksi.

Ada beberapa jenis eritema dengan penyebab dan gejala yang berbeda-beda. Penanganan untuk setiap jenis eritema juga bisa berbeda, tergantung penyebabnya.

Jenis-Jenis Eritema

1. Eritema nodosum

Eritema nodosum adalah tipe eritema yang muncul akibat peradangan pada lapisan lemak di bawah kulit. Eritema nodosum dapat menimbulkan bercak-bercak kemerahan pada tungkai bawah yang terasa nyeri ketika ditekan. Bercak kemerahan akibat eritema nodosum kadang juga bisa muncul di paha dan lengan.

Eritema nodosum bisa terjadi tanpa sebab yang jelas. Namun, munculnya eritema nodosum sering kali disebabkan oleh beberapa kondisi berikut ini:

  • Infeksi jamur dan bakteri, misalnya pada penyakit lepra, tuberkulosis, dan infeksi bakteri streptokokus.
  • Penyakit kanker, seperti leukemia dan limfoma.
  • Penyakit radang usus, misalnya penyakit Crohn atau kolitis ulserativa.
  • Sarkoidosis.
  • Efek samping obat-obatan tertentu, seperti pil KB, antibiotik, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), bromida, dan asam salisilat.
  • Kehamilan.

Eritema nodosum lazimnya akan hilang sendiri dalam waktu 3-6 minggu. Akan tetapi, pada kasus tertentu, eritema nodosum bisa menetap atau hilang-timbul selama bertahun-tahun.

2. Eritema multiformis

Eritema multiformis adalah penyakit peradangan pada kulit yang biasanya dipicu oleh infeksi atau efek samping obat-obatan. Eritema mutiformis terbagi menjadi dua jenis, yaitu eritema multiformis minor dan eritema multiformis mayor.

Eritema multiformis minor biasanya ditandai dengan gejala berupa munculnya bercak kemerahan yang melepuh di kulit.

Sedangkan eritema multiformis mayor ditandai dengan munculnya bercak kemerahan dan lepuhan di kulit yang disertai demam tinggi serta nyeri otot dan sendi. Selain di kulit, lepuhan dan bercak eritema multiformis mayor juga bisa muncul di mulut, konjungtiva (lapisan dalam kelopak mata), hidung, vagina, atau anus.

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya eritema multiformis, antara lain:

  • Infeksi virus, seperti virus herpes simpleks, virus hepatitis, HIV, dan adenovirus.
  • Penyakit akibat infeksi bakteri, seperti difteri, pneumonia, lepra, gonore, limfogranuloma venereum, dan demam tifoid.
  • Infeksi jamur dan parasit, seperti infeksi jamur kulit, toksoplasmosis, dan trikomoniasis.
  • Reaksi alergi obat yang parah, misalnya sindrom Stevens-Johnson.
  • Penyakit tertentu, seperti radang usus atau lupus eritematosus sistemik.

3. Eritema infektiosum

Eritema infektiosum adalah penyakit yang menimbulkan bercak kemerahan pada kulit akibat infeksi virus parvovirus B19. Virus ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan atau lendir dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi.

Penyakit ini umumnya menyerang pada anak-anak usia 5-15 tahun, namun bisa juga dialami oleh orang dewasa. Eritema infektiosum dapat menimbulkan beberapa gejala, antara lain demam, hidung meler, sakit kepala, ruam atau bercak merah di pipi, dan pembengkakan serta nyeri sendi.

Penanganan Eritema Berdasarkan Jenisnya

1. Penanganan eritema nodosum

Gejala eritema nodosum sering kali dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu 3-6 minggu. Namun, penyakit yang menjadi penyebabnya tetap perlu diketahui agar dapat diobati.

Untuk meredakan gejala eritema nodosum, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk:

  • Lebih banyak beristirahat.
  • Memposisikan kaki lebih tinggi daripada dada saat berbaring atau tidur.
  • Mengenakan perban atau stoking khusus.
  • Mengompres bercak kemerahan dengan kain yang dibasahi air dingin.
  • Mengonsumsi antiradang yang dapat mengurangi nyeri, seperti ibuprofen, colchicine, dan kalium iodide. Jika pengobatan tersebut tidak membuahkan hasil, dokter mungkin akan memberikan obat kortikosteroid. Obat-obatan tersebut bisa diperoleh dengan resep dokter.

2. Penanganan eritema multiformis

Sama seperti eritema nodosum, pengobatan eritoma multiformis juga dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Misalkan jika eritema disebabkan oleh alergi obat, maka dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk berhenti mengonsumsi obat tersebut.

Selain itu, untuk membantu meringankan gejala yang Anda rasakan, dokter dapat memberikan beberapa jenis obat-obatan, seperti:

  • Obat antihistamin untuk mengurangi gatal.
  • Obat antiradang, seperti paracetamol, untuk meredakan nyeri dan demam. Untuk mengatasi peradangan yang berat, dokter dapat memberikan obat kortikosteroid.
  • Obat kumur untuk meringankan luka di mulut.
  • Obat antibakteri, antijamur, atau antivirus, sesuai penyebab infeksi yang mendasarinya.

Jika gejala semakin berat atau muncul tanda dan gejala eritema multiformis mayor, segeralah periksakan ke dokter agar dapat diberikan perawatan yang tepat.

3. Penanganan eritoma infektiosum

Eritema infektiosum biasanya akan hilang dengan sendirinya. Penderitanya pun biasanya akan sembuh dan pulih sepenuhnya. Dokter mungkin hanya akan meresepkan obat penurun demam dan pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen.

***

Apabila eritema multiformis diduga terjadi akibat infeksi, penanganan yang tepat akan bergantung dari hasil pemeriksaan darah atau kultur. Bila infeksi terbukti disebabkan oleh virus herpes simpleks, dokter juga dapat menangani infeksi tersebut untuk mencegah berulangnya keluhan.

Read More

Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Splenomegali

Penyakit

Splenomegali merupakan sebuah kondisi yang terjadi saat limpa Anda membesar. Kondisi ini sering dikenal dengan sebutan pembesaran limpa. Limpa merupakan bagian dari sitem limfatik yang membantu sistem kekebalan tubuh dalam menyimpan sel darah putih dan membantu produksi antibodi. Organ penting ini terletak di bawan tulang rusuk kiri, dan memiliki peran yang sangat penting dalam menyaring bakteri yang tertutup antibodi, memproses ulang sel-sel darah merah yang tua, serta mendaur ulang zat besi dalam hemoglobin. Limpa sangat penting dibutuhkan tubuh untuk melawan infeksi karena limpa merupakan sumber 2 jenis sel darah putih, sel B dan sel T. Sel-sel darah putih tersebut melindungi tubuh dari bakteri dan infeksi.

Gejala splenomegali yang perlu diwaspadai

Beberapa orang dengan splenomegali atau pembesaran limpa tidak menunjukkan gejala apapun, dan kondisi ini baru akan ditemukan saat pasien menjalani pemeriksaan fisik rutin. Apabila Anda memiliki tubuh yang kurus, sangat mungkin Anda dapat merasakan adanya pembesaran limpa lewat kulit tubuh yang terlihat benjol di bagian bawah tulang rusuk. Selain itu, gejala umum splenomegali adalah timbulnya rasa sakit atau tidak nyaman di bagian kiri atas perut, tempat di mana limpa berada.

Anda juga akan merasa kenyang meskipun hanya makan dalam jumlah yang sedikit. Hal ini biasanya terjadi ketika limpa membesar dan menekan lambung. Apabila limpa menekan organ tubuh lain, hal ini dapat memengaruhi aliran darah ke limpa, sehingga dapat membuat limpat tidak mampu menyaring darah dengan baik. Selain itu, apabila menjadi terlalu besar, limpa dapat membersihkan sel darah merah dari darah dalam jumlah yang terlalu banyak. Tidak memiliki cukup sel darah merah dapat menyebabkan sebuah kondisi yang bernama anemia. Di sisi lain, apabila limpa tidak mampu menciptakan sel darah putih dalam jumlah yang cukup karena pembesaran, Anda akan lebih mudah dan rentan terkena infeksi.

Penyebab splenomegali

Beberapa penyakit dan kondisi medis tertentu dapat menyebabkan pembesaran limpa. Infeksi, contohnya mononucleosis, merupakan salah satu penyebab utama splenomegali. Gangguan pada hati, misalnya akibat fibrosis kistik dan sirosis, juga dapat menyebabkan pembesaran limpa. Penyebab lain splenomegali adalah rheumatoid arthritis, yang menyebabkan peradangan pada sistem limfik. Karena limpa adalah bagian dari sistem limfik, peradangan tersebut dapat menyebabkan limpa menjadi membesar.

Faktor risiko dan komplikasi

Setiap orang, tidak peduli jenis kelamin ataupun usia, dapat menderita pembesaran limpa. Namun, mereka yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena splenomegali di antaranya adalah:

  • Anak-anak dan remaja yang menderita infeksi seperti mononucleosis
  • Orang-orang yang menderita penyakit Gaucher, penyakit Niemann-Pick, dan beberapa gangguan metabolisme turunan yang memengaruhi hati dan limpa
  • Orang-orang yang hidup atau bepergian ke daerah-daerah di mana penyakit malaria umum dijumpai.

Splenomegali memiliki risiko komplikasi yang cukup parah, di antaranya adalah infeksi. Limpa yang membesar dapat mengurangi jumlah sel darah merah sehat, platelet, dan sel darah putih di aliran darah, yang dapat menyebabkan infeksi, pendarahan, serta anemia. Selain infeksi, limpa yang membesar membuatnya rentan rusak atau pecah. Bahkan limpa yang sehat sangat lembut dan mudah cidera, terutama apabila seseorang mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. Kemungkinan untuk rusak dan cidera meningkat apabila limpa Anda membesar akibat splenomegali. Limpa yang rusak atau cidera dapat menyebabkan pendarahan ke dalam rongga perut yang mengancam jiwa.

Read More